Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Cerita Pendek : Naik Turun

Oleh Muhammad Jadid Erfiansyah

Keyakinan akan terjadi ketika seseorang benar benar mempercayainya. Luna seorang yang biasa biasa saja mencoba memperbaiki kehidupannya. Daun layu tak berbatang Berdiri tegak menghadapi hembusan angin. Ia tidak pernah mengeluh, dia selalu bersyukur apapun yang telah didapatkan. Ayah yang tidak lagi bisa menjadi panutan hidup dan Ibu yang sudah tidak bisa berbuat apa apa. Kehidupan harus dijalani apapun permasalahannya dan perempuan ini memulai perjuangannya untuk melawan arus.
                “Aku akan terus melawan arus hingga ke bukit dan menyaringnya jika perlu”
                Rumput yang melambai lambai senada angin bergelombang yang merdu, cahaya kebiruan yang membuat ritme halus menerangi tumbuhan. Luna berjalan keluar rumah untuk mencari ilmu dunia yang belum ia ketahui. Ia yang pergi dengan membawa bekas luka yang belum terobati. Berjalan kokoh serasa luka yang dibawanya tidak ada apa apanya.
                Jembatan yang tak layak selalu dilewatinya. Apotik, Toko Buku dan Rumah kosong yang selalu menjadi pemandangan sehari hari ketika sudah mencapai kota. Rumah Luna yang sedikit jauh dari pusat Kota yang membuat ia selalu bangun pagi pagi sekali untuk bersiap siap menghadapi Ilmu ilmu baru disekolahnya.

                Sisa Uang yang ia masukkan di Kotak amal didepan apotik sudah menjadi keseharian Luna. Memberi sedekah kepada nenek yang kurang mampu ketika melewati jalan perempatan. Kebiasaan yang telah melekat kedalam diri luna semenjak ia telah beranjak dewasa
                “Nek, bagaimana kabarnya? Baik baik saja kan?. Saya bawa makanan nek, barangkali Nenek suka” Nenek itu dengan spontan tersenyum dan menjawab “Selamat berjuang ya nak mbah uti hanya bisa membantu Do’a” sambil mengepakkan tangannya di pundak Luna
Nenek yang kerap di sapa dengan sebutan Mbah Uti oleh Luna telah menjadi penasihat pribadinya yang senantiasa tulus untuk memperbaiki apa yang salah dalam diri Luna. Pagi yang masih seperti masih malam. Kendaraan yang tidak ada sama sekali melewati perempatan. Luna menikmati suasana pagi yang masih sepi.

Jaket merah muda yang senatiasa dipakainnya. Sepatu putih kehitaman yang selalu disemirnya dan kedua tangan yang disimpan di saku jaketnya telah menjadi cirikhas Luna baik dilingkungan rumah, jalan yang ia lewati setiap harinya, maupun di sekolahnya sendiri.

Hari ini sangat berbeda dari hari hari sebelumnya, Luna membawa bekas luka dari ayahnya yang sangat sulit disembuhkan di lingkungannya. Sebelum hari ini memang telah terjadi banyak hal yang membuat Luna Shock untuk mendengarnya. Hari sebelumnya dimana Luna mendapat Luka. Seseorang yang menjadi pemimpin keluarga yang setiap hari menafkahi Istri dan anaknya tak kunjung pulang. Rasa khawatir menyelimuti Linda ibu Luna. Pesan dan telepon yang tak kunjung terbalaskan membuat rasa khawatir bu linda melonjak.

Malam hari yang begitu hening dan sepi telah dikejutkan dengan ketokan pintu dari seseorang yang ternyata adalah Polisi
“Selamat malam, apakah benar ini kediaman Pak Agung?”
 bu linda saat itu tengah panik. karena kekhawatiranpun membukakan pintu lalu menjawab dengan nada cepat
 “Hah? Mengapa anda kesini? Saya tidak melakukan kesalahan apapun pak, dimana Suami saya? Anda pasti tahu sesuatu kan?”
Berusaha menenangkan dengan tersenyum dan langsung menjawab inti permasalahan yang akan disampaikan kepada bu linda
“Ehm… Jadi bu, suami anda Pak Agung Terkena kasus Korupsi, dan kami disini berupaya menggeledah rumah anda untuk kepastian perbuatan suami anda”
Bu Linda terkejut dua kali dengan perkataanya dan melihat dibelakang polisi terdapat dua orang lagi yang berseragam sama,Bu linda tidak tahan mengucapkan
“Ya Allah, Astaghfirullah, Silahkan masuk pak“
Sambil meneteskan air mata dan mengelus dada seraya tak percaya. Luna pun memeluk ibunya dengan genggaman yang paling erat yang pernah dirasakan bu linda. Ia selalu menjadi penenang hati ibunya disaat masalah yang besar muncul.
Luna memang berasal dari keluarga yang kebutuhannya semua terpenuhi, Keluarga Kaya Raya yang makmur dan sejahtera. Keluarga yang sangat disegani dikalangan orang elit menengah keatas. Keinginan yang selalu didambakan oleh setiap orang. Namun kini tidak seperti itu lagi, Keluarga ini telah ternodai oleh setetes air hitam yang dengan cepat menyebar secepat kabut di pagi hari. Keluarga dengan satu anak ini pun tenggelam.
“Bukan jatuhku yang penting namun Bangkitku” ujar Luna sambil memandang tempat dimana ia sekolah
Berjalan dengan kokoh menghadap gerbang sekolah sambil bersiul dan menikmati setiap langkah yang ia ambil. Semua orang melihat Luna dengan mata sinis tak terkecuali satpam sekolah pun ikut ikutan melihatnya seperti itu. Kabar tentang ayah luna yang tersangkut kasus korupsi menyebar sangat cepat melesat secepat halilintar cahaya. Bebagai media tengah membicarakannya, Koran, Berita Online, Radio dan lain sebagainya.
“Hai, anak koruptor. Bagaimana kabarnya?” Seru teman satu kelas
“Baik, Alhamdulillah bagaimana kabarmu juga?” Sambil tersenyum dan menggenggam erat tangan sebelah kanannya
“Bagaimana kamu bisa menjawab dengan ekspresi tenang seperti itu?” Luna lalu mengeraskan suara mulutnya “Memang benar aku adalah anak koruptor, kamu betul kok aku terima itu, tapi satu hal yang pasti Ayahku adalah ayahku, Aku adalah Aku mengerti!”
Dengan tangan menunjuk wajahnya sendiri. Semua yang berada di dekatnya terkejut dan diam seketika mendengar perkataan dari luna. Dari Semua teman satu kelas, yang perhatian hanya satu orang. Ia dan luna sangat dekat dari kelas sepuluh, kedekatannya berawal dari saling tolong menolong dengan membagi informasi ketika pendaftaran di sebuah sekolah Negeri. Teman yang dipanggil dengan nama Rendy meski dilingkungan rumahnya dipanggil Ian
“Bisa ceritakan kepadaku kenapa kamu masuk sekolah hari ini?” sambil menepuk kedua tangannya, Luna dengan tenang menjawab
“Bukankah sudah jelas Ren, untuk mencari ilmu. Hari ini kamu aneh”
“Hah? Bukankah seharusnya aku yang berkata seperti itu. Seharusnya kamu tidak masuk dulu hari ini, kamu tau maksudku kan?”
“Mbah Uti menasihatiku seperti ini ‘Masalah besar bisa membuat kamu trauma dan menurunkan mental, tapi mau sampai kapan? Bukan jatuh yang terpenting tapi Bangkitnya, dan belajarlah menerima dan menghadapi masalah besar’ seperti itu”
“Aku tau kamu keras kepala, tapi setidaknya jangan memaksakan diri”
“Kamu terbawa Arus Kehidupan, kamu tidak mengerti hal itu”
Siang seperti Api yang membakar, Terik Matahari menggugurkan daun daun layu. Membuat suasana mataforgana. Tahun dimana musim panas tak kunjung surut. Batu kecil yang membuat Pantulan cahaya rapi disetiap sudutnya. Kebiasaan Luna sepulang sekolah untuk beristirahat di sawah berbukit dan ia di bawah pohon seperti biasanya. Kebetulan Rendy lewat dengan membawa banyak sekali makanan.
“Loh Luna… Hahaha kok disitu?” “…” “Kamu nganggur kan? Bisa bantu aku?” “Makanan itu buat siapa?” dengan wajah menghadap berlawanan “iya aku suruh nganterin ke Pakdeku, soalnya mau mantenan dia, dan aku kesulitan bawa banyak makanan disini” tanpa ada pembicaraan lagi Luna langsung menyabotase separuh makanan yang pertanda Ia mau membantunya.
Dalam perjalanan pun Luna dan Rendy saling berbagi pengalaman, Rendy adalah orang yang terbuka sedangkan Luna orang yang sedikit tertutup
“Emm… gimana kabar ibumu? Masih sehat sehat aja kan?” Luna dengan muka manis menjawab “Ya ibuku Sehat wa alfiat” “aku masih penasaran sama Mbah Uti yang sering kamu ceritakan, bolehkah aku kapan kapan menemuinya?” berhenti sejenak sambil berpikir. Luna pun dengan ragu menjawab “Tentu” dengan cepat Rendy menjawab “Sip, karena besok hari minggu. Besok pagi jam lima setelah sholat shubuh aku didepan rumahmu ya”
Sungguh sangat ironis, sudah lebih dari satu tahun Luna menceritakan tentang Mbah Uti, namun Rendy masih belum tau Mbah Uti itu siapa. Meski begitu Ia selalu percaya semua perkataan Luna karena ia menganggap semua perkataan Luna itu selalu jujur mengingat kejadian di sekolah tadi pagi Luna bicara apa adanya kepada teman satu kelasnya.

Jalan demi jalan, Ranting pohon yang bergoyang mengikuti alur angin pergi. Telah sampailah dikediaman Pakde Rendy.
“Yap hanya sampai sini saja, terimakasih banyak atas bantuannya, jangan lupa besok pagi” dengan raut muka yang gembira menggambarkan ekspresi senangnya Rendy untuk esok hari.
Malam hari tiba, bukan malam seperti biasanya. Tidak ada orang yang bisa diajak bersenda gurau lagi, tidak ada salam khas yang menghiasi pulangnya sang ayah. Hanya Ibu yang bisa dipeluk. Tanah terbujur kaku, tumbuhan berhenti bergoyang pada malam hari. Tidur diiringi dengan penyesalan maupun tangisan.

Luna adalah anak rajin, pintar membagi waktu, bangun jam tiga selalu untuk menunaikan ibadah sunah, dilanjutkan cuci baju dan piring. Meski terlahir sebagai orang kaya ibunya selalu mendidiknya seperti itu sebagai bekal untuk dewasa nanti.

Kebiasaan sulit dihilangkan, Ia telah terbawa kebiasaan beramal baik. Tidak pernah sekalipun Ia mencoba menghilangkan kebiasaanya yang sudah baik ini. Matahari masih belum tampak di ufuk timur, hanya cahaya lampu jalan yang menerangi. Sampailah pagi yang dinantikan, Seperti janjinya Rendy telah sampai didepan rumah Luna. Tidak lupa pula jaket merah muda yang selalu ia pakai.
“Selamat pagi Luna, semuanya sudah bereskan, ayo kita jalan jalan” dengan sedikit berkeringat karena lari paginya menuju ke rumah Luna
“Ketika kau menuju kerumahku kau lari ya, berarti kau tidak bisa menikmati apapun setiap perjalanannya” seperti detektif yang sedang menginterogasi mangsanya
Kebiasaan Luna setiap harinya yaitu diantaranya membersihkan teras,  membantu petani menyirami sawah disebelah rumahnya, menyapa  dan memberi sesuatu kepada orang yang kurang mampu, selalu membeli sesuatu di toko yang sangat kecil dekat rumahnya, menyumbang sebagian uang sisanya ke kotak amal didepan apotik. Tidak lupa Ia selalu membawa makanan dan membaginya kepada Mbah Uti. Terakhir Ia selalu menunggu di kursi halte sampai jam enam tigapuluh ketika ia menunggu sekolah buka. Hari ini semua kegiatan Luna akan ditemani oleh Rendy.
“Nduk iku sopo yang bersamamu?” Sang petani yang tengah sibuk memberi pupuk “niki teman kula Rendy, dan Rendy ini Pak Basuki yang sering menjual nasinya ke aku” dengan agak sedikit malu “hehe inggeh pak”
“Ayo sini Ren, bantu aku siram siram ambil airnya disana”  menunjuk sumur kecil tidak jauh dai tempat Ia berdiri
Penuh dengan pengalaman yang dirasakan Rendy ketika melakukan banyak kegiatan yang sering dilakukan oleh Luna hari ini. Dilanjutkan ke jalanan dimana Luna selalu memberi Sesuatu kepada orang yang kurang mampu.
“Ren, kamu tau siapa disana” dengan ekspresi kasihan melihat orangtua cacat dengan satu anaknya. “Orang Miskin, memang kenapa? Bukankah kita seharusnya ke Mbah Uti?”
Dengan muka kesal menghadap ke Rendy “Jaga mulutmu, itulah mengapa aku mengatakan kamu itu terbawa arus kehidupan, Hanya orang yang kuat yang diakui didunia ini, orang lemah tidak memiliki tempat didunia ini. Aku sepenuhnya setuju dengan hal itu. jika orang tua itu lemah tidak mungkin Ia menyuapi anaknya setiap hari” sesaat kemudian Luna dikejutkan dengan sikap Rendy

Spontan Rendy telah berada didepan Orang tua itu, Ia merasa bersalah “Bu saya minta maaf, saya telah berbuat kesalahan kepada ibu, sebagai gantinya minuman ini untuk ibu” minuman pengganti Ion yang telah dibawanya sepanjang perjalanan dengan Luna dikasihkan secara cuma cuma. Rendy dengan tangan didada menghadap Luna “Aku akan melawan arus kehidupan sepertimu”  dan Luna hanya tersenyum mengakui keberanian Rendy.

Seteleh beberapa mangambil langkah yang panjang Luna beristirahat di sebuah toko Kecil yang selalu ia kunjungi. Rndypun mengikuti duduk duduk disebelahnya. Sesaat kemudian Luna disapa oleh pemilik Toko yang kerap dipanggil Tia. Perempuan yang masih muda dengan hobinya mendekorasi sesuatu itu memanggil Luna dengan sebutan Tyas karena nama panjang dari luna sendiri Nigtyas.
“Pagi Tyas, nggak beli?, eh sebelumnya siapa yang bersamamu?” “Ohh.. ini temanku Rendy, Rendy ini Tia penjaga toko ini, biasanya aku beli makanan disini untuk Mbah Uti” dengan tersipu malu Rendy merogoh sakunya “Lun, maksudku Tyas hari ini biar aku yang membeli makanannya” “Eh kok tiba tiba” Rendy memang bersyukur karena hari ini Ia mempunyai pengalaman yang banyak dan baru bagi dirinya sendiri “Karena Hari ini adalah kemauanku dan ini bentuk penghormatanku untuk Mbah Uti” tegasnya.
Perempatan jalan telah terlihat. Luna melewati jalan penyebrangan dengan mengayunkan kaki seirama kegembiraan. Rendy yang masih penasaran karena Rasa ingin tahu yang besar terhadap Mbah Uti juga berjalan sambil menolehkan wajahnya kekanan dan kekiri. Sesaat kemudian Luna menghentikan langkahnya.
“Ren, kamu kelebihan, langkahmu terlalu jauh kita sudah sampai”
Rumah gubuk yang terhimpit oleh pagar pagar dari besi yang telah karatan, disitulah rumah Mbah Uti, memang sampai sekarang tidak ada yang memerhatikan lingkungan sekitar sini, penertiban pun juga pernah dilakukan di kawasan sekitar sini. Untuk menuju kerumah mbah Uti harus melewati dan meloncati pagar maupun batubatu yang berserakan.
“Assalamu’allaikum Mbah Uti aku Luna datang lagi” diulang dua kali oleh Luna hingga terdengar oleh Mbah Uti “Uhuk uhuk.. Wa’allaikumsallam, iya silahkan masuk” Lunapun langsung mengenalkan temannya itu dan Rendy yang ketika itu sangat keheranan dan penuh dengan argumentasinya mengenalkan secara pribadi kepada Mbah Uti “Assala’mu’allaikum, Mbah Uti saya Rendy teman Luna, saya disini karena saya ingin bertemu dengan anda Mbah Uti” ujarnya.
Daun berlengak lengok, kendaraan berlalu lalang, Angin yang sepoi sepoi, dan Awan yang menutupi panasnya sinar matahari menghiasi suasana di kawasan itu. Waktu yang terasa berhenti, dentuman jarum jam yang melambat seiring pelannya suara serangga pagi.

Tak segan segan Rendy ingin berkenalan lebih jauh dengan Mbah Uti, sedangkan Luna menyirami bunga yang tidak jauh dari rumah itu yang berada di sebelah tenggara. Mengajukan tanya jawab kepada Mbah Uti dan semakin lama semakin menarik pehatian Rendy. Dari pertanyaan itu telah membuka lebih dalam lagi dari seseorang yang telah menjadi penasihat pribadi Luna, dan Faktanya adalah Mbah Uti adalah seseorang yang sangat berpegaruh di Kota ini dulu, menjadi orang yang sukses sejahtera dan makmur, kesalahan Mbah Uti hanya satu yaitu tidak dapat menerima kondisi suliit yang dialami ketika bangkrutnya pabrik yang ia kembangkan selama hampir 15 tahun berproduksi.
Mbah Uti juga mengatakan hal hal yang menjadi penyabab kehancurannya ataupun kelengeserannya dahulu.

“Nak, tolong dengarkan ini, Roda selalu berputar. Jika kamu tidak dapat menerima kekalahan kamu tidak dapat menang”


Hingga sore pun tiba, banyak kegiatan seru yang dilakukan di sekitar rumah mbah Uti, membersihkan rumput dan memperbaiki teras serta mengganti kayu yang sudah rapuh. Merah, Hijau ditopang oleh tiang hitam, Roda roda berasap melintas berlalulalang, Disela selaitu Mbah Uti juga memberi solusi kepada Luna menghadapi orang orang yang membuat mental turun.

                “Hadapilah, tidak ada cara selain menghadapi, jika ingin mengendalikan mereka, beri mereka kepercayaan, dan raihlah kedudukan untuk mempermudahmu”
                Dengan semangat dan Harapan baru di pagi hari ini, Luna berngkat kesekolah dengan tekad mengubah reputasinya. Teringat dengan kata kata mutiara mbah uti Luna menghentakkan kakinya dengan gagah dan berani menghadapi segala masalah yang berada di luar sana. Mbah Uti telah menginspirasi jati diri Luna, dan hari ini adalah hari perubahan hidup Luna.

                Angin bertiup pelan membawa angkutan daun daun hijau, membuat suara siulan merpati. Kesempatan mungkin datang dua kali namun keberanian untuk mengambil kesempatan tidak datang dua kali, Jam ke tiga pelajaran telah diberhentikan sementara karena mendadak Wali kelas itu ingin mengganti Ketua kelas yang baru, memang sudah seharusnya diganti karena pergantian semester dari ganjil ke genap. Ironisnya ketika wali kelas menanyakan siapa yang ingin menjadi ketua kelas tidak ada satupun yang mengngkat tangannya, Tidak untuk Luna dan Rendy Ia berdua tidak Cuma mengangkat tangannya namun dengan berdiri juga. Tidak ada sambutan yang meriah, melainkan lemparan botol dan kertas secara diam diam ke arah Calon Ketua dan Wakil nya. Sebuah tantangan pertama bagi mereka berdua.

                Tidak berhenti disitu, mereka berdua selalu diejek dan dicacimaki, tapi itu menjadi hal yang kecil bagi Luna bahkan tidak bisa membuat dirinya goyah sedikitpun, Karena Luna ingin membuktikan bahwa hidupnya lebih baik. Untuk memperoleh sebuah loyal dai anak buah pemimpin harus menjadi kepercayaan. Sedikit demi sedikit Luna membantu teman temannya yang mengalami kesulitan. Selayaknya orang memberi julukan padanya Baja yang tidak takut dengan Api.

                Apapun cara untuk maju telah dilakukan Luna, sampai sekarang Luna telah mendapat kepercayaan dari teman temannya, dari melakukan hal kecil sampai hal besar yang bermanfaat. Luna serius ingin membantu semua masalah yang dihadapi oleh teman teman sekelasnya. Ia telah menjadi pemimpin kelas yang paling baik dalam sejarah sekolah.

                Masa masa berjaya Luna dimana semua orang menyeganinya dan menghormatinya, itupun dari hasil jerih payah yang telah ia lakukan selama belakangan ini dan berkat nasihat Mbah Uti Luna bisa menjadi seperti ini. Rendy adalah seseorang yang berada di balik layar belakangan ini. Ia mensupport Luna dari belakang dan terkena dampak yang luar biasa. Sekarangpun ia masih melakukan hal hal yang ekstrim dan menantang, menjadi orang yang sangat baik bagi dirinya maupun untuk orang lain.

                Luna juga menjadikan keseharian selalu bermanfaat, hingga ia selalu dikenal di seluruh jlan yang setiap hari ia lewati. Selalu dikenang oleh seluruh orang yang pernah ia bantu hanya saja Luna tidak menyadari hal itu, mungkin karena memang Ia berusaha terlalu keras dan membantu dengan sangat ikhlas.

                Sore yang indah tanpa awan, dengan matahari setengah tampak, menunjukkan cahayanya keatas menyamping membuat burung burung berbaris terbang lurus dengan sayapnya yang berkilauan dan rumput yang menari nari membentuk  sebuah acara budaya dan bunga yang telah bermekaran menyebarkan serbuk serbuknya. Hari ini adalah hari yang akan dikenang oleh seluruh warga kota, seseorang perempuan yang berhasil memperbaiki reputasinya, seseorang yang berani menunjukkan betapa hebatnya membuat keadaan berubah, betapa sabarnya menghadapi cobaan dan betapa bijaksananya mengetahui perbedaanya. Hari ini Luna telah dipanggil oleh tuhan. Tuhan yang maha Esa telah memanggilnya.

                Semua belum ada yang tahu, sunguh ironis memang, ketika berita yang mencemari selalu cepat menyebar namun berita dari orang baik baik selalu ditelantarkan. Hanya orang baik yang akan menyampaikan sepeti apa adanya. Hanya Rendy yang tahu bahwa Luna telah tiada, Ia hanya kebingungan menjelaskannya kepada tema temannya. Ia depresi hanya untuk memikirkannya, hanya saja ketika dia jatuh Rendy selalu teringat dengan kata kata Luna
                “Bukan jatuhku yang penting namun Bangkitku”
                Tekad, semangat berkumpul dalam satu titik, dan direalisasikan oleh tindakan. Rendy memanggil teman teman kelasnya dan membulatkan Tekad. Ia dan semuanya pergi ke rumah Luna untuk pertama kalinya menangis dari sepanjang perjalanan. Ribuan tangisan telah jatuh, Musim panas telah luntur yang menjadi Hujan. Rendy dan semuanya berlari melawan hujan dan angin. Badai tidak akan menghambatnya untuk ke rumah Luna. Ibunya masih belum mengetahui bahwa anaknya telah dipanggil tuhan dan, Hari itu juga Semua itu Diberitahukanlah semua dari Pak basuki hingga mbah Uti.

                Bu linda tidak bisa berkata apa apa lagi, hanya tangisan yang bisa menjawab semuanya, Pak Basuki melepas semua peralatannya. Tia menutup Tokonya. Mbah Uti hanya bisa berdo’a dan Teman teman sekolahnya menghampiri rumahnya. Kehidupan itu selalu Naik Turun, Terkadang kita diatas, dan terkadang kita dibawah. Roda selalu berputar maka buatlah Kehidupan ini berarti karena Luna masih hidup. Hidup didalam hati semua orang yang telah menyanyanginya dan merindukannya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar