Siapakah Aku?
Siapakah Aku? Ya sekarang ini temanya membahas tentang diriku sendiri
Mulai kita bahas ya
Nama Lengkap saya Muhammad Jadid Erfiansyah dan sering disebut JADIDM, sebenarnya awal dipanggil seperti itu sudah lama sejak SMP kelas 2
Sebenarnya didalam diriku telah membawa banyak sekali cerita cerita dimana aku bisa bertahan sampai sekarang ini
Saya lahir di Gresik Bulan Desember tanggal 7 tahun 1997
Pada saat itu juga ada peristiwa Pearl Harbour. Sangat mengejutkan memang.
Sesudahnya saya dibesarkan di Pare karena yang akhirnya harus pindah disebabkan oleh kurangnya Ekonomi
dari kecil sudah mengalami cobaan dan masalah serius yang sangat besar dan beruntun, yang bisa menyelamatkan semua adalah hanya Tuhan yang maha esa
aku dan orang tuaku seperti melawan dunia bersama
meski telah pindah di pare-kediri masalah tetap datang dan akhirnya orang tuaku tidak tinggal diam dengan berwirausaha ternak ayam dan lele meski pada waktu itu ada wabah flu burung dan kami mengalami kebangkrutan
Sekarang bisa dibilang alhamdulillah dan puji syukur yang sangat tinggi kepada tuhan aku dan keluaragaku sudah punya rumah sendiri dan sekarang ayahku mendapat pekerjaan yang bisa memajukan diriku adikku dan keluargaku tentunya
Read User's Comments(0)
Hope for 2015
Rabu, Januari 07, 2015 |
Label:
Harapan
LEBIH RAJIN
BISA MEMANAGE WAKTU SEBAIK BAIKNYA
BERPIKIR DUA KALI SEBELUM BERBICARA
MENGUTAMAKAN TINDAKAN DARIPADA OMONGAN
LEBIH JUJUR TERHADAP DIRI SENDIRI
SUKSES SEMUDA MUNGKIN
DIBAIKKAN PERILAKUNYA
DIBERSIHKAN HATINYA
DISEHATKAN SELALU
Cerita Pendek : Naik Turun
Oleh Muhammad Jadid Erfiansyah
Keyakinan akan terjadi ketika seseorang benar benar
mempercayainya. Luna seorang yang biasa biasa saja mencoba memperbaiki
kehidupannya. Daun layu tak berbatang Berdiri tegak menghadapi hembusan angin.
Ia tidak pernah mengeluh, dia selalu bersyukur apapun yang telah didapatkan.
Ayah yang tidak lagi bisa menjadi panutan hidup dan Ibu yang sudah tidak bisa
berbuat apa apa. Kehidupan harus dijalani apapun permasalahannya dan perempuan
ini memulai perjuangannya untuk melawan arus.
“Aku
akan terus melawan arus hingga ke bukit dan menyaringnya jika perlu”
Rumput
yang melambai lambai senada angin bergelombang yang merdu, cahaya kebiruan yang
membuat ritme halus menerangi tumbuhan. Luna berjalan keluar rumah untuk
mencari ilmu dunia yang belum ia ketahui. Ia yang pergi dengan membawa bekas
luka yang belum terobati. Berjalan kokoh serasa luka yang dibawanya tidak ada
apa apanya.
Jembatan
yang tak layak selalu dilewatinya. Apotik, Toko Buku dan Rumah kosong yang
selalu menjadi pemandangan sehari hari ketika sudah mencapai kota. Rumah Luna
yang sedikit jauh dari pusat Kota yang membuat ia selalu bangun pagi pagi
sekali untuk bersiap siap menghadapi Ilmu ilmu baru disekolahnya.
Sisa
Uang yang ia masukkan di Kotak amal didepan apotik sudah menjadi keseharian
Luna. Memberi sedekah kepada nenek yang kurang mampu ketika melewati jalan perempatan.
Kebiasaan yang telah melekat kedalam diri luna semenjak ia telah beranjak
dewasa
“Nek, bagaimana
kabarnya? Baik baik saja kan?. Saya bawa makanan nek, barangkali Nenek suka”
Nenek itu dengan spontan tersenyum dan menjawab “Selamat berjuang ya nak mbah
uti hanya bisa membantu Do’a” sambil mengepakkan tangannya di pundak Luna
Nenek yang kerap di sapa dengan
sebutan Mbah Uti oleh Luna telah menjadi penasihat pribadinya yang senantiasa
tulus untuk memperbaiki apa yang salah dalam diri Luna. Pagi yang masih seperti
masih malam. Kendaraan yang tidak ada sama sekali melewati perempatan. Luna
menikmati suasana pagi yang masih sepi.
Jaket merah muda yang senatiasa dipakainnya.
Sepatu putih kehitaman yang selalu disemirnya dan kedua tangan yang disimpan di
saku jaketnya telah menjadi cirikhas Luna baik dilingkungan rumah, jalan yang
ia lewati setiap harinya, maupun di sekolahnya sendiri.
Hari ini sangat berbeda dari hari
hari sebelumnya, Luna membawa bekas luka dari ayahnya yang sangat sulit
disembuhkan di lingkungannya. Sebelum hari ini memang telah terjadi banyak hal
yang membuat Luna Shock untuk mendengarnya. Hari sebelumnya dimana Luna
mendapat Luka. Seseorang yang menjadi pemimpin keluarga yang setiap hari
menafkahi Istri dan anaknya tak kunjung pulang. Rasa khawatir menyelimuti Linda
ibu Luna. Pesan dan telepon yang tak kunjung terbalaskan membuat rasa khawatir
bu linda melonjak.
Malam hari yang begitu hening dan
sepi telah dikejutkan dengan ketokan pintu dari seseorang yang ternyata adalah Polisi
“Selamat malam, apakah benar ini
kediaman Pak Agung?”
bu linda saat itu tengah panik. karena
kekhawatiranpun membukakan pintu lalu menjawab dengan nada cepat
“Hah? Mengapa anda kesini? Saya tidak
melakukan kesalahan apapun pak, dimana Suami saya? Anda pasti tahu sesuatu kan?”
Berusaha menenangkan dengan
tersenyum dan langsung menjawab inti permasalahan yang akan disampaikan kepada
bu linda
“Ehm… Jadi bu, suami anda Pak Agung
Terkena kasus Korupsi, dan kami disini berupaya menggeledah rumah anda untuk
kepastian perbuatan suami anda”
Bu Linda terkejut dua kali dengan
perkataanya dan melihat dibelakang polisi terdapat dua orang lagi yang
berseragam sama,Bu linda tidak tahan mengucapkan
“Ya Allah, Astaghfirullah, Silahkan
masuk pak“
Sambil meneteskan air mata dan mengelus
dada seraya tak percaya. Luna pun memeluk ibunya dengan genggaman yang paling
erat yang pernah dirasakan bu linda. Ia selalu menjadi penenang hati ibunya
disaat masalah yang besar muncul.
Luna memang berasal dari keluarga
yang kebutuhannya semua terpenuhi, Keluarga Kaya Raya yang makmur dan
sejahtera. Keluarga yang sangat disegani dikalangan orang elit menengah keatas.
Keinginan yang selalu didambakan oleh setiap orang. Namun kini tidak seperti
itu lagi, Keluarga ini telah ternodai oleh setetes air hitam yang dengan cepat
menyebar secepat kabut di pagi hari. Keluarga dengan satu anak ini pun
tenggelam.
“Bukan jatuhku yang penting namun
Bangkitku” ujar Luna sambil memandang tempat dimana ia sekolah
Berjalan dengan kokoh menghadap
gerbang sekolah sambil bersiul dan menikmati setiap langkah yang ia ambil.
Semua orang melihat Luna dengan mata sinis tak terkecuali satpam sekolah pun
ikut ikutan melihatnya seperti itu. Kabar tentang ayah luna yang tersangkut
kasus korupsi menyebar sangat cepat melesat secepat halilintar cahaya. Bebagai
media tengah membicarakannya, Koran, Berita Online, Radio dan lain sebagainya.
“Hai, anak koruptor. Bagaimana
kabarnya?” Seru teman satu kelas
“Baik, Alhamdulillah bagaimana
kabarmu juga?” Sambil tersenyum dan menggenggam erat tangan sebelah kanannya
“Bagaimana kamu bisa menjawab
dengan ekspresi tenang seperti itu?” Luna lalu mengeraskan suara mulutnya
“Memang benar aku adalah anak koruptor, kamu betul kok aku terima itu, tapi
satu hal yang pasti Ayahku adalah ayahku, Aku adalah Aku mengerti!”
Dengan tangan menunjuk wajahnya
sendiri. Semua yang berada di dekatnya terkejut dan diam seketika mendengar
perkataan dari luna. Dari Semua teman satu kelas, yang perhatian hanya satu
orang. Ia dan luna sangat dekat dari kelas sepuluh, kedekatannya berawal dari
saling tolong menolong dengan membagi informasi ketika pendaftaran di sebuah
sekolah Negeri. Teman yang dipanggil dengan nama Rendy meski dilingkungan
rumahnya dipanggil Ian
“Bisa ceritakan kepadaku kenapa
kamu masuk sekolah hari ini?” sambil menepuk kedua tangannya, Luna dengan
tenang menjawab
“Bukankah sudah jelas Ren, untuk
mencari ilmu. Hari ini kamu aneh”
“Hah? Bukankah seharusnya aku yang
berkata seperti itu. Seharusnya kamu tidak masuk dulu hari ini, kamu tau
maksudku kan?”
“Mbah Uti menasihatiku seperti ini
‘Masalah besar bisa membuat kamu trauma dan menurunkan mental, tapi mau sampai
kapan? Bukan jatuh yang terpenting tapi Bangkitnya, dan belajarlah menerima dan
menghadapi masalah besar’ seperti itu”
“Aku tau kamu keras kepala, tapi
setidaknya jangan memaksakan diri”
“Kamu terbawa Arus Kehidupan, kamu
tidak mengerti hal itu”
Siang seperti Api yang membakar,
Terik Matahari menggugurkan daun daun layu. Membuat suasana mataforgana. Tahun
dimana musim panas tak kunjung surut. Batu kecil yang membuat Pantulan cahaya
rapi disetiap sudutnya. Kebiasaan Luna sepulang sekolah untuk beristirahat di
sawah berbukit dan ia di bawah pohon seperti biasanya. Kebetulan Rendy lewat
dengan membawa banyak sekali makanan.
“Loh Luna… Hahaha kok disitu?” “…”
“Kamu nganggur kan? Bisa bantu aku?” “Makanan itu buat siapa?” dengan wajah
menghadap berlawanan “iya aku suruh nganterin ke Pakdeku, soalnya mau mantenan
dia, dan aku kesulitan bawa banyak makanan disini” tanpa ada pembicaraan lagi
Luna langsung menyabotase separuh makanan yang pertanda Ia mau membantunya.
Dalam perjalanan pun Luna dan Rendy
saling berbagi pengalaman, Rendy adalah orang yang terbuka sedangkan Luna orang
yang sedikit tertutup
“Emm… gimana kabar ibumu? Masih
sehat sehat aja kan?” Luna dengan muka manis menjawab “Ya ibuku Sehat wa
alfiat” “aku masih penasaran sama Mbah Uti yang sering kamu ceritakan, bolehkah
aku kapan kapan menemuinya?” berhenti sejenak sambil berpikir. Luna pun dengan
ragu menjawab “Tentu” dengan cepat Rendy menjawab “Sip, karena besok hari
minggu. Besok pagi jam lima setelah sholat shubuh aku didepan rumahmu ya”
Sungguh sangat ironis, sudah lebih
dari satu tahun Luna menceritakan tentang Mbah Uti, namun Rendy masih belum tau
Mbah Uti itu siapa. Meski begitu Ia selalu percaya semua perkataan Luna karena
ia menganggap semua perkataan Luna itu selalu jujur mengingat kejadian di
sekolah tadi pagi Luna bicara apa adanya kepada teman satu kelasnya.
Jalan demi jalan, Ranting pohon
yang bergoyang mengikuti alur angin pergi. Telah sampailah dikediaman Pakde
Rendy.
“Yap hanya sampai sini saja,
terimakasih banyak atas bantuannya, jangan lupa besok pagi” dengan raut muka
yang gembira menggambarkan ekspresi senangnya Rendy untuk esok hari.
Malam hari tiba, bukan malam seperti
biasanya. Tidak ada orang yang bisa diajak bersenda gurau lagi, tidak ada salam
khas yang menghiasi pulangnya sang ayah. Hanya Ibu yang bisa dipeluk. Tanah
terbujur kaku, tumbuhan berhenti bergoyang pada malam hari. Tidur diiringi
dengan penyesalan maupun tangisan.
Luna adalah anak rajin, pintar
membagi waktu, bangun jam tiga selalu untuk menunaikan ibadah sunah,
dilanjutkan cuci baju dan piring. Meski terlahir sebagai orang kaya ibunya
selalu mendidiknya seperti itu sebagai bekal untuk dewasa nanti.
Kebiasaan sulit dihilangkan, Ia
telah terbawa kebiasaan beramal baik. Tidak pernah sekalipun Ia mencoba
menghilangkan kebiasaanya yang sudah baik ini. Matahari masih belum tampak di
ufuk timur, hanya cahaya lampu jalan yang menerangi. Sampailah pagi yang
dinantikan, Seperti janjinya Rendy telah sampai didepan rumah Luna. Tidak lupa
pula jaket merah muda yang selalu ia pakai.
“Selamat pagi Luna, semuanya sudah
bereskan, ayo kita jalan jalan” dengan sedikit berkeringat karena lari paginya
menuju ke rumah Luna
“Ketika kau menuju kerumahku kau
lari ya, berarti kau tidak bisa menikmati apapun setiap perjalanannya” seperti
detektif yang sedang menginterogasi mangsanya
Kebiasaan Luna setiap harinya yaitu
diantaranya membersihkan teras, membantu
petani menyirami sawah disebelah rumahnya, menyapa dan memberi sesuatu kepada orang yang kurang
mampu, selalu membeli sesuatu di toko yang sangat kecil dekat rumahnya,
menyumbang sebagian uang sisanya ke kotak amal didepan apotik. Tidak lupa Ia
selalu membawa makanan dan membaginya kepada Mbah Uti. Terakhir Ia selalu
menunggu di kursi halte sampai jam enam tigapuluh ketika ia menunggu sekolah
buka. Hari ini semua kegiatan Luna akan ditemani oleh Rendy.
“Nduk iku sopo yang bersamamu?”
Sang petani yang tengah sibuk memberi pupuk “niki teman kula Rendy, dan Rendy
ini Pak Basuki yang sering menjual nasinya ke aku” dengan agak sedikit malu
“hehe inggeh pak”
“Ayo sini Ren, bantu aku siram
siram ambil airnya disana” menunjuk
sumur kecil tidak jauh dai tempat Ia berdiri
Penuh dengan pengalaman yang
dirasakan Rendy ketika melakukan banyak kegiatan yang sering dilakukan oleh
Luna hari ini. Dilanjutkan ke jalanan dimana Luna selalu memberi Sesuatu kepada
orang yang kurang mampu.
“Ren, kamu tau siapa disana” dengan
ekspresi kasihan melihat orangtua cacat dengan satu anaknya. “Orang Miskin,
memang kenapa? Bukankah kita seharusnya ke Mbah Uti?”
Dengan muka kesal menghadap ke
Rendy “Jaga mulutmu, itulah mengapa aku mengatakan kamu itu terbawa arus
kehidupan, Hanya orang yang kuat yang diakui didunia ini, orang lemah tidak
memiliki tempat didunia ini. Aku sepenuhnya setuju dengan hal itu. jika orang
tua itu lemah tidak mungkin Ia menyuapi anaknya setiap hari” sesaat kemudian
Luna dikejutkan dengan sikap Rendy
Spontan Rendy telah berada didepan
Orang tua itu, Ia merasa bersalah “Bu saya minta maaf, saya telah berbuat
kesalahan kepada ibu, sebagai gantinya minuman ini untuk ibu” minuman pengganti
Ion yang telah dibawanya sepanjang perjalanan dengan Luna dikasihkan secara
cuma cuma. Rendy dengan tangan didada menghadap Luna “Aku akan melawan arus
kehidupan sepertimu” dan Luna hanya
tersenyum mengakui keberanian Rendy.
Seteleh beberapa mangambil langkah
yang panjang Luna beristirahat di sebuah toko Kecil yang selalu ia kunjungi.
Rndypun mengikuti duduk duduk disebelahnya. Sesaat kemudian Luna disapa oleh
pemilik Toko yang kerap dipanggil Tia. Perempuan yang masih muda dengan hobinya
mendekorasi sesuatu itu memanggil Luna dengan sebutan Tyas karena nama panjang
dari luna sendiri Nigtyas.
“Pagi Tyas, nggak beli?, eh
sebelumnya siapa yang bersamamu?” “Ohh.. ini temanku Rendy, Rendy ini Tia
penjaga toko ini, biasanya aku beli makanan disini untuk Mbah Uti” dengan
tersipu malu Rendy merogoh sakunya “Lun, maksudku Tyas hari ini biar aku yang
membeli makanannya” “Eh kok tiba tiba” Rendy memang bersyukur karena hari ini
Ia mempunyai pengalaman yang banyak dan baru bagi dirinya sendiri “Karena Hari
ini adalah kemauanku dan ini bentuk penghormatanku untuk Mbah Uti” tegasnya.
Perempatan jalan telah terlihat.
Luna melewati jalan penyebrangan dengan mengayunkan kaki seirama kegembiraan.
Rendy yang masih penasaran karena Rasa ingin tahu yang besar terhadap Mbah Uti
juga berjalan sambil menolehkan wajahnya kekanan dan kekiri. Sesaat kemudian
Luna menghentikan langkahnya.
“Ren, kamu kelebihan, langkahmu terlalu
jauh kita sudah sampai”
Rumah gubuk yang terhimpit oleh
pagar pagar dari besi yang telah karatan, disitulah rumah Mbah Uti, memang
sampai sekarang tidak ada yang memerhatikan lingkungan sekitar sini, penertiban
pun juga pernah dilakukan di kawasan sekitar sini. Untuk menuju kerumah mbah
Uti harus melewati dan meloncati pagar maupun batubatu yang berserakan.
“Assalamu’allaikum Mbah Uti aku
Luna datang lagi” diulang dua kali oleh Luna hingga terdengar oleh Mbah Uti
“Uhuk uhuk.. Wa’allaikumsallam, iya silahkan masuk” Lunapun langsung
mengenalkan temannya itu dan Rendy yang ketika itu sangat keheranan dan penuh
dengan argumentasinya mengenalkan secara pribadi kepada Mbah Uti
“Assala’mu’allaikum, Mbah Uti saya Rendy teman Luna, saya disini karena saya
ingin bertemu dengan anda Mbah Uti” ujarnya.
Daun berlengak lengok, kendaraan
berlalu lalang, Angin yang sepoi sepoi, dan Awan yang menutupi panasnya sinar
matahari menghiasi suasana di kawasan itu. Waktu yang terasa berhenti, dentuman
jarum jam yang melambat seiring pelannya suara serangga pagi.
Tak segan segan Rendy ingin
berkenalan lebih jauh dengan Mbah Uti, sedangkan Luna menyirami bunga yang
tidak jauh dari rumah itu yang berada di sebelah tenggara. Mengajukan tanya
jawab kepada Mbah Uti dan semakin lama semakin menarik pehatian Rendy. Dari
pertanyaan itu telah membuka lebih dalam lagi dari seseorang yang telah menjadi
penasihat pribadi Luna, dan Faktanya adalah Mbah Uti adalah seseorang yang
sangat berpegaruh di Kota ini dulu, menjadi orang yang sukses sejahtera dan
makmur, kesalahan Mbah Uti hanya satu yaitu tidak dapat menerima kondisi suliit
yang dialami ketika bangkrutnya pabrik yang ia kembangkan selama hampir 15 tahun
berproduksi.
Mbah Uti juga mengatakan hal hal
yang menjadi penyabab kehancurannya ataupun kelengeserannya dahulu.
“Nak, tolong dengarkan ini, Roda
selalu berputar. Jika kamu tidak dapat menerima kekalahan kamu tidak dapat
menang”
Hingga sore pun tiba, banyak kegiatan seru yang dilakukan di
sekitar rumah mbah Uti, membersihkan rumput dan memperbaiki teras serta mengganti
kayu yang sudah rapuh. Merah, Hijau ditopang oleh tiang hitam, Roda roda
berasap melintas berlalulalang, Disela selaitu Mbah Uti juga memberi solusi
kepada Luna menghadapi orang orang yang membuat mental turun.
“Hadapilah,
tidak ada cara selain menghadapi, jika ingin mengendalikan mereka, beri mereka
kepercayaan, dan raihlah kedudukan untuk mempermudahmu”
Dengan
semangat dan Harapan baru di pagi hari ini, Luna berngkat kesekolah dengan
tekad mengubah reputasinya. Teringat dengan kata kata mutiara mbah uti Luna
menghentakkan kakinya dengan gagah dan berani menghadapi segala masalah yang
berada di luar sana. Mbah Uti telah menginspirasi jati diri Luna, dan hari ini
adalah hari perubahan hidup Luna.
Angin
bertiup pelan membawa angkutan daun daun hijau, membuat suara siulan merpati.
Kesempatan mungkin datang dua kali namun keberanian untuk mengambil kesempatan
tidak datang dua kali, Jam ke tiga pelajaran telah diberhentikan sementara
karena mendadak Wali kelas itu ingin mengganti Ketua kelas yang baru, memang
sudah seharusnya diganti karena pergantian semester dari ganjil ke genap.
Ironisnya ketika wali kelas menanyakan siapa yang ingin menjadi ketua kelas
tidak ada satupun yang mengngkat tangannya, Tidak untuk Luna dan Rendy Ia
berdua tidak Cuma mengangkat tangannya namun dengan berdiri juga. Tidak ada
sambutan yang meriah, melainkan lemparan botol dan kertas secara diam diam ke
arah Calon Ketua dan Wakil nya. Sebuah tantangan pertama bagi mereka berdua.
Tidak
berhenti disitu, mereka berdua selalu diejek dan dicacimaki, tapi itu menjadi
hal yang kecil bagi Luna bahkan tidak bisa membuat dirinya goyah sedikitpun,
Karena Luna ingin membuktikan bahwa hidupnya lebih baik. Untuk memperoleh
sebuah loyal dai anak buah pemimpin harus menjadi kepercayaan. Sedikit demi
sedikit Luna membantu teman temannya yang mengalami kesulitan. Selayaknya orang
memberi julukan padanya Baja yang tidak takut dengan Api.
Apapun
cara untuk maju telah dilakukan Luna, sampai sekarang Luna telah mendapat
kepercayaan dari teman temannya, dari melakukan hal kecil sampai hal besar yang
bermanfaat. Luna serius ingin membantu semua masalah yang dihadapi oleh teman
teman sekelasnya. Ia telah menjadi pemimpin kelas yang paling baik dalam
sejarah sekolah.
Masa
masa berjaya Luna dimana semua orang menyeganinya dan menghormatinya, itupun
dari hasil jerih payah yang telah ia lakukan selama belakangan ini dan berkat
nasihat Mbah Uti Luna bisa menjadi seperti ini. Rendy adalah seseorang yang
berada di balik layar belakangan ini. Ia mensupport Luna dari belakang dan terkena
dampak yang luar biasa. Sekarangpun ia masih melakukan hal hal yang ekstrim dan
menantang, menjadi orang yang sangat baik bagi dirinya maupun untuk orang lain.
Luna
juga menjadikan keseharian selalu bermanfaat, hingga ia selalu dikenal di
seluruh jlan yang setiap hari ia lewati. Selalu dikenang oleh seluruh orang
yang pernah ia bantu hanya saja Luna tidak menyadari hal itu, mungkin karena
memang Ia berusaha terlalu keras dan membantu dengan sangat ikhlas.
Sore
yang indah tanpa awan, dengan matahari setengah tampak, menunjukkan cahayanya
keatas menyamping membuat burung burung berbaris terbang lurus dengan sayapnya
yang berkilauan dan rumput yang menari nari membentuk sebuah acara budaya dan bunga yang telah bermekaran
menyebarkan serbuk serbuknya. Hari ini adalah hari yang akan dikenang oleh
seluruh warga kota, seseorang perempuan yang berhasil memperbaiki reputasinya,
seseorang yang berani menunjukkan betapa hebatnya membuat keadaan berubah,
betapa sabarnya menghadapi cobaan dan betapa bijaksananya mengetahui
perbedaanya. Hari ini Luna telah dipanggil oleh tuhan. Tuhan yang maha Esa
telah memanggilnya.
Semua
belum ada yang tahu, sunguh ironis memang, ketika berita yang mencemari selalu
cepat menyebar namun berita dari orang baik baik selalu ditelantarkan. Hanya
orang baik yang akan menyampaikan sepeti apa adanya. Hanya Rendy yang tahu
bahwa Luna telah tiada, Ia hanya kebingungan menjelaskannya kepada tema
temannya. Ia depresi hanya untuk memikirkannya, hanya saja ketika dia jatuh
Rendy selalu teringat dengan kata kata Luna
“Bukan
jatuhku yang penting namun Bangkitku”
Tekad,
semangat berkumpul dalam satu titik, dan direalisasikan oleh tindakan. Rendy memanggil
teman teman kelasnya dan membulatkan Tekad. Ia dan semuanya pergi ke rumah Luna
untuk pertama kalinya menangis dari sepanjang perjalanan. Ribuan tangisan telah
jatuh, Musim panas telah luntur yang menjadi Hujan. Rendy dan semuanya berlari
melawan hujan dan angin. Badai tidak akan menghambatnya untuk ke rumah Luna.
Ibunya masih belum mengetahui bahwa anaknya telah dipanggil tuhan dan, Hari itu
juga Semua itu Diberitahukanlah semua dari Pak basuki hingga mbah Uti.
Bu
linda tidak bisa berkata apa apa lagi, hanya tangisan yang bisa menjawab
semuanya, Pak Basuki melepas semua peralatannya. Tia menutup Tokonya. Mbah Uti
hanya bisa berdo’a dan Teman teman sekolahnya menghampiri rumahnya. Kehidupan
itu selalu Naik Turun, Terkadang kita diatas, dan terkadang kita dibawah. Roda
selalu berputar maka buatlah Kehidupan ini berarti karena Luna masih hidup.
Hidup didalam hati semua orang yang telah menyanyanginya dan merindukannya.
Langganan:
Postingan (Atom)









